Siang
itu, kesibukan tampak terlihat di rumah berdinding bambu dan berlantai tanah
milik Sakiyem, 75 tahun, Selasa (5/2). Bersama suaminya, Wagimin (85), Sakiyem
hilir mudik keluar masuk rumah mengangkut kerupuk yang berwarna merah dan putih
dengan tumbu (bakul yang terbuat dari bambu) ke dalam rumah.
Wagimin
mengumpulkan kerupuk yang sudah mulai mengering, yang terhampar di terpal
plastik, sementara Sakiyem mengangkat kerupuk ke dalam rumah. Dan kadang
sebaliknya. Mereka bergantian menjalankan tugas siang itu. Mereka berdua tak
berhenti sejenak pun, karena awan tebal sudah menggantung pertanda hujan akan
segera turun.
Sebulan
terakhir, menurut Sakiyem, di atas pukul satu siang hari kawasan Desa Tanjung,
Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, selalu turun hujan.
Sehingga pengeringan kerupuknya mengalami sedikit kendala.
“Nek
sak bendinane udan terus, yo kerupuk susah kering (Kalau tiap hari hujan, ya
kerupuk susah kering),” kata perempuan asli daerah setempat,
Selasa (5/2).
Rumah
Sakiyem tak luas, hanya sekitar 7x9 meter. Namun, meski tak luas, menurut
Sakiyem, rumah yang hanya ditempati berdua bersama suaminya ini cukup lega.
Rumah disekat menjadi satu ruang tidur, satu ruang penyimpanan barang, dapur
untuk menggoreng kerupuk, dan ruang tamu yang sekaligus digunakan untuk membuat
kerupuk. Sakiyem dan Wagimin tak memiliki anak. Mereka juga tak mencoba
mengadopsi anak saudara seperti keluarga kebanyakan. Sakiyem punya alasan
mengapa tak mengadopsi anak, pasalnya ia tak ingin memisahkan anak dari ibu dan
keluarganya. Jadilah ia tetap memutuskan hidup bedua saja dengan suaminya sejak
pernikahannya pada 1955.
Sakiyem
dan Wagimin bukan sosok yang mudah menyerah.Meski dilahirkan bukan sebagai
orang mampu secara ekonomi, keduanya tak menyesali hidup apalagi menyalahkan
orang tua. Sakiyem dan Wagimin muda adalah anak seorang buruh tani. Namun,
pertanian masing-masing keluarganya tak membuat kehidupan keluarga membaik.
Setelah menikah, mereka memutuskan membuat usaha sendiri, mengolah tepung
ketela menjadi kerupuk tayamum atau warga di daerah setempat menyebut kerupuk
upil. Disebut kerupuk tayamum atau kerupuk upil karena pengolahannya digoreng
dengan pasir.
Saat
itu, kata Sakiyem, jumlah pasokan ketela lumayan banyak, karena pekarangan
maupun kebun milik warga kebanyakan ditanami singkong. Dan ketela hanya dimasak
dengan cara sederhana yakni direbus atau dibakar. Wagimin lah yang bertugas
mencari ketela di rumah-rumah warga. Dengan sepeda ontel (sepeda kayuh),
sepulang dari pasar Wagimin akan menyisir rumah-rumah warga. Dalam sehari, dia
bersama istrinya bisa mengolah dua karung ketela, dan terus bertambah menjadi
lima sampai sepuluh karung.
Tetangga
mereka sebagian besar juga memiliki usaha yang sama. Namun, usaha kerupuk yang
masih bertahan hingga kini hanyalah milik Sakiyem-Wagimin.
“Podo
bangkrut. Untunge ambek modal ora sebanding (Pada bangkrut. Antara untung sama
modalnya tak sebanding),” ujar Sakiyem yang memulai usaha di usia 20 tahun.
Mengolah kerupuk tayamum tak sederhana. Karena ketela mesti ditumbuk dan
disaring untuk diambil sari patinya. Setelah itu Sakiyem beserta Wagimin
membumbui sari ketela dengan adonan bawang putih, ketumbar, dan garam. Setelah
dibumbui dan diaduk rata sampai kenyal (dalam bahasa Jawa diuleni), sari ketela
dibentuk bulatan panjang sebesar lengan tangan orang dewasa, lalu dimasak.
Setelah matang, tepung berbentuk bulatan panjang didinginkan, diiris tipis dan
dikeringkan. Setelah kering kerupuk siap digoreng dan dibungkus dalam plastik
berukuran seperempat. Pada tahun 90-an, kerupuk dalam kemasan plastic
seperempat dijual Rp25. Namun, kini Sakiyem tak lagi menjual kerupuk dengan
kemasan kecil. Melainkan mengemasinya dengan ukuran plastic ukuran setengah
kilogram dengan harga Rp5.000 per bungkus.
Usahanya
hingga kini berjalan lancar. Bahkan dari hasil jerih payahnya, ia dan suaminya
bisa menabung. Sisa uang yang ia tabungkan ia putar untuk modal membeli bahan
ketela seharga
Rp 500 ribu. Setiap hari pasaran, Sakiyem dan suami bisa mendapat untung Rp 50.000- Rp75.000. (Hari pasaran dihitung berdasarkan penghitungan Jawa (pon, kliwon-Pasar Wado, Legi, Wage-Pasar Kedugtuban).
Rp 500 ribu. Setiap hari pasaran, Sakiyem dan suami bisa mendapat untung Rp 50.000- Rp75.000. (Hari pasaran dihitung berdasarkan penghitungan Jawa (pon, kliwon-Pasar Wado, Legi, Wage-Pasar Kedugtuban).
Berjuang
Usia Renta Mata Sakiyem, 75 tahun, cekung. Tulang pipinya terlihat menonjol dan
rambut di kepalanya telah memutih. Begitu juga Wagimin (85) suaminya. Kantung
matanya terlihat menggelembung dan tubuhnya terlihat ringkih. Kini keduanya
terlihat renta.
Namun,
kondisi tubuh keduanya tak menyurutkan semangat pasangan suami istri yang
memiliki usaha pengolahan kerupuk upil atau kerupuk tayamum-kerupuk yang
familiar di kawasan kecamatan Kedungtuban, Blora, Jawa Tengah ini, Setiap
pasaran (Pasar Wado-ada setiap penanggalan Jawa:pon dan kliwon, Pasar
Kedungtuban –ada setiap Wage dan Legi), Wagimin dan Sakiyem menyusuri jalan,
mengayuh sepeda ontel sejauh 3-5 kilometer. Mereka berboncengan. Karena Sakiyem
tidak bisa mengayuh sepeda. Pada boncengan Wagimin tak hanya membawa Sakiyem,
tapi juga kerupuk yang ia bungkus dalam sebuah plastik besar yang ia tali di
boncengan bagian kanan, samping Sakiyem duduk. Mereka berangkat setelah azan
subuh berkumandang dan pulang sekitar pukul 10.00 WIB.
Mereka
selalu terlihat berdua saat berangkatnya juga pulang dari pasar. Berjualan
kerupuk di pasar dengan mengayuh sepedah mereka lakukan sejak tahun 1958. Pada
2011, karena tubuh Wagimin yang sudah mulai ringkih dan tak mampu membonceng
Sakiyem dan membawa seplastik besar kerupuk, mereka membeli sepeda motor. Kini,
Wagimin tak lagi mampu mengayuh sepedah, juga menemani istrinya berjualan di
pasar. Setiap hari, Sakiyem diantar tetangga ke pasar menggunakan sepeda motor
yang mereka beli.
Kini,
Sakiyemlah yang menjadi tulang punggung keluarga. Di usianya yang telah renta,
ia mesti berjuang seorang diri mencari nafkah untuk kebutuhan hidup
sehari-hari. Menembus dingin di pagi hari dan duduk di antara kerumunan orang
di pasar menjajakan dagangan. Wagimin, yang sering sakit-sakitan tak lagi
sekuat beberapa tahun lalu. Ia hanya bisa membantu mengolah kerupuk di rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar